Ia bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu momentum terbaik atau “masa keemasan” bagi petani Indonesia.
“Saat ini adalah masa keemasan bagi petani. Nilai Tukar Petani (NTP) berada pada posisi tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Tetapi petani tidak boleh cepat merasa puas,” tegasnya.
Menurut Anwar, peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah maupun tingginya harga komoditas. Petani juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan melakukan inovasi di berbagai lini.
“Petani harus terus berinovasi, harus mengenal teknologi untuk meningkatkan produktivitas, hingga masuk pada teknologi hilirisasi pertanian,” dorong Anwar.
Ia menegaskan, ke depan petani tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mulai didorong menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan produk bernilai tambah.
Dengan demikian, momentum meningkatnya perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian tidak hanya menjadi peluang untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjadi jalan bagi petani Indonesia untuk naik kelas, semakin mandiri, dan memiliki daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bagi Kompro 98, masa keemasan pertanian tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Petani sejahtera bukan hanya soal harga komoditas yang tinggi, tetapi juga tentang kemampuan berinovasi, menguasai teknologi, meningkatkan produktivitas, dan membangun hilirisasi agar nilai tambah hasil pertanian tetap dinikmati oleh petani.(RK)












