BeritaDaerah

Gedung Megah Jadi Horor Religi, Islamic Center Way Kanan Dibiarkan Terlantar

Candrika Fathya
142
×

Gedung Megah Jadi Horor Religi, Islamic Center Way Kanan Dibiarkan Terlantar

Share this article

Blambangan Umpu – Alih-alih menjadi pusat kemegahan dan simbol religiusitas, Gedung Islamic Center Way Kanan kini justru berubah menjadi potret kegagalan pengelolaan aset publik. Bangunan megah yang menelan anggaran hingga Rp15,6 miliar dari APBD itu kini ditelantarkan, nyaris tak terjamah fungsi dan makna yang dulu diagung-agungkan.

Gedung yang mulai dibangun pada tahun 2009 itu awalnya digadang sebagai pusat kegiatan Islami, tempat pembinaan umat, pemberangkatan haji, dan kegiatan keagamaan masyarakat Way Kanan. Namun kini, kondisi fisik bangunan menyedihkan—gelap di malam hari, kusam, dan dikelilingi semak belukar yang merambat hingga ke dinding bangunan.

“Gedung ini seperti tak bertuan. Tidak ada penerangan, tidak ada aktivitas. Yang ada hanya sunyi dan suasana yang bikin merinding,” ujar Agus, warga sekitar, saat ditemui.

Lebih miris lagi, warga sekitar melaporkan bahwa lokasi tersebut kini malah sering dijadikan tempat nongkrong anak muda hingga diduga menjadi tempat mesum di malam hari“Bukan lagi tempat ibadah, malah tempat muda-mudi pacaran. Ironis banget,” tambah Agus kecewa.

Gedung Islamic Center itu bahkan disebut warga lebih menyerupai bangunan angker daripada rumah ibadah. Dindingnya mulai retak, rumput tumbuh liar di halaman, dan tak ada tanda-tanda bahwa bangunan itu masih difungsikan oleh pemerintah daerah.

Masyarakat pun mempertanyakan, ke mana anggaran perawatan gedung ini dialokasikan? Bukankah fasilitas publik seperti ini seharusnya dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat?

“Kami tahu ini dibangun dari uang rakyat. Tapi sekarang malah terbengkalai begitu saja. Apa tidak malu? Ini simbol Way Kanan, tapi sekarang malah jadi simbol kegagalan,” tegas salah satu tokoh pemuda setempat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemkab Way Kanan terkait kondisi gedung dan rencana pemanfaatannya ke depan. Namun tekanan dari masyarakat agar pemerintah segera mengambil tindakan semakin kuat menggema.

Masyarakat menuntut agar Pemkab tidak hanya sekadar membangun, tetapi juga bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pemanfaatan aset agar tidak jadi monumen kesia-siaan.

“Kalau tidak bisa dikelola, serahkan ke organisasi Islam atau lembaga yang mampu menghidupkannya kembali. Jangan sampai gedung semegah itu hanya jadi bangunan bisu yang dilupakan sejarah,” pungkas Agus.(Eng/zp tim)