Olahraga

Desire Doue Bawa PSG Juara Liga Champions, Bungkam Inter Milan 5-0 di Final Bersejarah

Candrika Fathya
470
×

Desire Doue Bawa PSG Juara Liga Champions, Bungkam Inter Milan 5-0 di Final Bersejarah

Share this article

Penampilan Gemilang Desire Doue

Duoe menjadi pusat permainan sejak menit awal. Pada menit ke-12, umpannya yang brilian membuka jalan bagi Achraf Hakimi mencetak gol pembuka—gol yang langsung mengubah momentum pertandingan.

Tak lama berselang, pada menit ke-20, Doue sendiri mencatatkan nama di papan skor lewat tembakan yang sempat membentur kaki bek Inter Milan dan mengubah arah bola. Dengan itu, ia resmi menjadi pemain termuda dalam sejarah Liga Champions yang mencetak gol dan assist di partai final.

Gol keduanya datang di babak kedua, tepatnya pada menit ke-63, setelah kombinasi cerdas dengan Ousmane Dembele dan Vitinha. Sepakan tenang Doue ke gawang menandai performa luar biasa yang hampir sempurna dari sang bintang muda.

“Dia bukan hanya pemain muda berbakat, dia adalah simbol dari PSG yang baru,” kata Luis Enrique, pelatih PSG, usai laga.

PSG Tampilkan Permainan Kolektif Kelas Dunia

Meski Doue menjadi pusat perhatian, kemenangan ini adalah hasil dari kerja tim yang luar biasa. PSG di bawah asuhan Luis Enrique menunjukkan permainan menyerang yang cepat, dinamis, dan terorganisir.

  • Vitinha memimpin lini tengah dengan visi permainan yang tajam.
  • Ousmane Dembele menjadi ancaman konstan dengan dribel dan umpannya.
  • Kvaratskhelia berkontribusi dengan kecepatan dan satu gol spektakuler.
  • Pemain pengganti Senny Mayulu pun ikut memberi dampak positif dari bangku cadangan.

Secara statistik, PSG sangat dominan. Nilai expected goals (xG) mereka mencapai 3,23 dibandingkan hanya 0,49 milik Inter Milan. Pertahanan PSG pun solid dengan Marquinhos sebagai komando dan Gianluigi Donnarumma yang tampil tangguh saat dibutuhkan.

Akhir Sebuah Penantian

Dengan kemenangan ini, PSG akhirnya mengakhiri penantian panjang mereka akan trofi Liga Champions. Setelah beberapa musim penuh harapan yang berakhir antiklimaks, musim 2024/25 menjadi titik balik.

Bagi Inter Milan, ini adalah malam kelam yang tak akan mudah dilupakan. Tim asuhan Simone Inzaghi tampak kesulitan sejak awal laga dan tak mampu mengimbangi intensitas permainan PSG.(**)